‎“Pembantaian Intelektual Dimulai: Afinas Qadafi Tuding Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Sedang Merencanakan Kemunduran Masa Depan Bangsa”

‎“Pembantaian Intelektual Dimulai: Afinas Qadafi Tuding Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Sedang Merencanakan Kemunduran Masa Depan Bangsa”

Jun 02, 2026 - 17:58
Diperbarui: 2 bulan yang lalu
0 2
‎“Pembantaian Intelektual Dimulai: Afinas Qadafi Tuding Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Sedang Merencanakan Kemunduran Masa Depan Bangsa”



Kota Langsa, 30 April 2026- Gelombang kritik terhadap kebijakan penghapusan program studi kini mencapai titik panas.

‎Akademisi muda Afinas Qadafi melontarkan serangan terbuka yang jauh lebih keras negara dinilai tidak lagi sekadar keliru, tetapi sedang melakukan “pembantaian intelektual” secara sistematis.

‎“Ini bukan reformasi pendidikan. Ini eksekusi terhadap ilmu pengetahuan. Negara sedang mengubur disiplin ilmu hidup-hidup demi kepentingan pasar,” tegas Afinas dengan nada tajam.

‎Menurut Afinas, kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menjadikan kampus sekadar alat produksi tenaga kerja murah. Prodi yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi langsung dianggap tidak layak dipertahankan.

‎Ia menyebut logika ini sebagai bentuk “penjajahan gaya baru” dalam dunia pendidikan.
‎“Kalau ukuran ilmu hanya berlaku atau tidak di industri, maka kita sedang mengganti universitas menjadi pabrik. Ini bukan pendidikan, ini perbudakan intelektual”

‎Afinas lalu mengutip pemikiran tajam Tan Malaka:
‎“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan”

‎Ia menegaskan, jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi pasar, maka negara telah mengkhianati cita-cita besar tersebut.

‎Afinas menilai penghapusan prodi adalah tanda berbahaya negara mulai menentukan ilmu mana yang dianggap “berguna” dan mana yang harus disingkirkan.

‎“Hari ini yang dihapus adalah prodi. Besok bisa jadi yang dihapus adalah cara berpikir. Ini bukan kebijakan teknis, ini kontrol ideologis.”

‎Ia memperingatkan bahwa praktik semacam ini berpotensi melahirkan generasi yang patuh, tetapi tidak kritis.
‎Dalam kritiknya, Afinas juga menyoroti dampak nyata yang sering diabaikan pemerintah.

‎“Di balik satu keputusan penghapusan, ada dosen yang dimatikan kariernya, ada mahasiswa yang digantung masa depannya. Ini kebijakan terbodoh setelah MBG”

‎Menurutnya, negara sedang menjadikan kampus sebagai laboratorium kebijakan tanpa mempertimbangkan dampak kemanusiaan.

‎Sebagai mahasiswa hukum tata negara, Afinas menegaskan bahwa kebijakan ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab konstitusional negara.

‎“Konstitusi memerintahkan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan menyederhanakan ilmu demi efisiensi. Ini bentuk pengkhianatan terhadap amanat sejarah.”

‎Ia bahkan menyebut kebijakan ini sebagai bentuk kemunduran berpikir negara dalam melihat fungsi pendidikan.

‎Menutup pernyataannya, Afinas Qadafi melontarkan peringatan yang lebih gelap dan provokatif
‎“Jika hari ini negara membunuh ilmu yang tidak menguntungkan, maka besok negara akan menciptakan generasi yang tidak mampu melawan.”

‎Mengutip semangat perjuangan Tan Malaka, ia menegaskan
‎“Bangsa yang besar bukan bangsa yang patuh, tapi bangsa yang berpikir.”

‎Ia mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk segera menghentikan kebijakan tersebut sebelum sejarah mencatatnya sebagai rezim yang membungkam ilmu.

‎“Kalau kampus dibungkam, maka yang lahir bukan intelektual tapi budak kapitalis.”

Dedek Purnama

Redaksi dari Media Online Kabartujuh.com

Komentar (0)

User